الوصف
Hidup Ping jungkir balik ketika ia harus pindah ke Jakarta dan tinggal bersama keluarga calon gubernur. Ping mesti menghadapi sekolah baru, kawan-kawan baru, dan tantangan baru. Mungkinkah ia menemukan apa yang hilang selama ini? Dan, apakah Ping siap dengan yang ia temukan? Bahwa, hidupnya ternyata tidak sesederhana yang ia duga.
تفاصيل الكتاب
المراجعات
عرض الكلMembaca Rapijali itu kayak makan gado-gado: mulai dari bahas cinta-cintaan, persahabatan, keluarga, musik, sampai politik.Di antara sekian banyaknya novel fiksi remaja yang udah pernah kubaca, Rapijali bisa dibilang merupakan novel yang "paling remaja banget". Ringan, ngalir, dan bikin nyengir mulu.Sebagai pembaca yang seumuran dengan Ping dkk, aku jadi berasa menemukan teman-teman satu frekuensi. Yah, mau gimana lagi. Interaksi dan kelakuan para karakter di sini emang bener-bener natural serta bikin nagih. Kegayengan band Rapijali, debat kusir antara Inggil & Buto, humor receh Lodeh, adegan manis2 antara Ping, Rakai, atau Oding. Namatin buku ini dalam waktu sehari auto bikin misuh. Asli pengen ngebut baca buku 2 yang semoga aja lebih rame lagi.Plotnya sebenernya simpel, bonus konflik dan tokoh yang justru jumlahnya bejibun. Sempet ngerasa bingung ini buku alurnya mau dibawa ke mana. Semua tokoh kok bawa2 konflik kehidupan mereka?Tapi lama kelamaan bisa enjoy juga, terutama paling suka dengan cara Dee Lestari yang menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, sehingga kita sebagai pembaca bisa masuk ke pemikiran semua tokoh di sini. Alurnya pun alhasil jadi lebih lincah dan gak melulu terpaku sama 1 tokoh. Ibaratnya, walaupun Ping di sini adalah planet, Dee Lestari tetep nggak ngelupain karakter-karakter lain yang mengorbitnya. Vibe-nya Rapijali berasa kayak nonton film musikal tentang band sekolah. Gak bisa inget ada berapa banyak judul lagu sama istilah musik yang disebutin di sini. Penggambaran musik dalam buku ini juga seolah-olah membuat kita ‘bisa mendengar’-nya lewat kata-kata. Candu banget lah, apa lagi waktu bayangin permainan keyboard Ping atau suara Rakai dan Lodeh yang nyanyi (dan aku seketika jadi penasaran sama nyanyian pengguncang bumi-nya Jemi & Buto). Rapijali 1: Mencari memang masih kayak pengenalan aja sih, jadi gak ada klimaks yang bener2 nendang. Sebaliknya, buku pertama ini lebih dari cukup sebagai awalan untuk menjanjikan cerita yang lebih intens di buku berikutnya. Sempet agak disayangkan, karena di antara sekian banyaknya karakter, ada beberapa di antara mereka yang perannya seolah terlupakan. Sebut saja seperti orang-orang di Batu Karas (termasuk Oding) yang cuma dibahas di awal cerita serta penggambaran sosok Kinari yang masih kabur. Padahal menurutku keberadaan Kinari ini cukup potensial buat membawakan aura nostalgia seandainya dibahas lebih detail lewat sudut pandang Guntur.Akhir kata, bener-bener nggak sabar buat baca Rapijali 2 untuk lihat perkembangan hubungan Guntur-Ping, persahabatan dan kegayengan band Rapijali, dan yang paling penting tentu saja soal kepastian antara tim Poding atau tim Pingkai (saya? Maaf, saya lebih dukung tim Bugil #uhuk).