Buchdetails
Beschreibung
Bila ingin selamat, segeralah hengkang dari Granada, atau bergegaslah menjadi murtad, dan serahkan diri pada Gereja untuk dibaptis menjadi kristiani. Tapi, anak cucu Abu Jaafar tetap bertahan di Granada, bertahan menjadi muslim. Mereka begitu piawai berperan sebagai bunglon, di dalam rumah mereka masih shalat, berbahasa Arab, tapi di luar rumah mereka berbahasa Castile, menggunakan nama baptis, juga menghadiri misa suci di Gereja.
Namun, sampai kapan Aishah, Saad, Hassan, Mariama, dan semua keturunan Abu Jaafar bisa bertahan dalam situasi kemenduaan yang merisaukan itu? Bertahan sebagai muslim di masa itu seolah sedang menunggu petaka.
Saleemah, cucu kesayangan Abu Jaafar tak peduli dengan segala macam ancaman penguasa. Setelah suaminya, Saad dipenjara, Ia sibuk meracik pelbagai ramuan obat yang diperolehnya dari pelbagai kitab. Banyak pasien yang telah disembuhkannya. Tapi suatu hari, badan inkuisi Granada merazia rumahnya. Perempuan itu diringkus. Bukan karena Saleemah adalah istri Saad, seorang pemberontak yang sebelumnya sudah ditangkap. Tapi karena Saleemah terbukti mempelajari dan menyembunyikan kitab-kitab berbahasa Arab, dan tuduhan yang lebih fatal adalah; praktek sihir dengan barang bukti pelbagai ramuan dari tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian (padahal itu ramuan obat). Vonis hukumannya tak tanggung-tanggung; dibakar hidup-hidup. Sanggupkah Saleemah mengelak dari vonis biadab itu? Bagaimana dengan Saad, suaminya, bagaimana pula dengan si kecil, Aishah yang dititipkan pada bibi Mariama? Mampukah mereka bertahan dari kekejaman dan sadisme bertopeng ‘misi suci’ itu?
Novel berjudul Granada ini adalah buku pertama dari tiga novel yang terhimpun dalam Tsulatsiyah Gharnatah (The Granada Trilogy).