レビュー
“Bagaimana jika di dunia ini eksistensi ‘aku’ dihapuskan?”Dalam distopia Anthem, semua hal sudah ditentukan. Mulai dari pekerjaan, rutinitas kehidupan, sampai nama. Terlahir sebagai manusia artinya membuatmu langsung terikat dengan persaudaraan kolektif yang mengagungkan kata ‘kami’. Tidak ada kebebasan berpikir dan berekspresi.Lantas di mana kata ‘aku’ berada?Aturan di dunia ini: jangan sesekali mempertanyakan Kata Terlarang itu, kecuali ingin dibakar hidup-hidup.Serius. Nggak ngibul. Bahkan lebih dari separuh isi buku ini dituturkan melalui sudut pandang tokoh bernama Equality 7-2521 yang menggunakan kata ganti ‘kami’.Bermula dari keisengan karena menemukan buku ini di iPusnas, Anthem justru memberikan pengalaman pembaca yang membuatku tidak bisa berhenti mengatakan tiga kata keramat: edan, gila, sinting.Pernah gak sih kalian nemu buku yang bikin berpikir, “Mustahil ini distopia bakal terjadi di masa depan, tapi kok rasanya relate ya sama situasi sekarang?” Then try to read this book.Aku baru tahu bahwa Ayn Rand adalah filsuf yang terkenal karena pemikiran objektivisme-nya (thanks, Mbah Google). Anthem merupakan salah salah satu karya beliau yang menyoroti bagaimana kolektivisme ekstrem bisa menindas hak-hak individu. Banyak pula yang mengatakan bahwa Anthem adalah bentuk kritik Ayn Rand terhadap pemerintahan negara totaliter-sosialis seperti Uni Soviet di mana beliau dilahirkan.Jujur, aku nggak berpikir rumit sampai ke aspek-aspek politik dan ideologi (bahkan aku ragu, otak lolaku sudah sepenuhnya memahami isi buku ini). Terlepas dari segala kontroversinya, menurutku, Anthem adalah karya yang menceritakan tentang manusia itu sendiri. Anthem adalah cerita tentang kita semua yang mencari arti dari eksistensi diri.Di tengah masyarakat yang berusaha menutut semua orang untuk 'menjadi sama', acap kali kita masih sulit berdiri sebagai individu bebas; tidak punya cukup keberanian untuk mengutarakan jawaban A lantaran mayoritas orang mengatakan jawaban B, meyakini sesuatu sebagai kebenaran hanya karena orang lain berkata demikian. Lembar-lembar kisah Anthem dengan berani merefleksikkan kenyataan ini.Bagi kita yang akrab dengan ungkapan “Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi” membaca Anthem akan terasa seperti letupan-letupan kecil terhadap ‘keyakinan mulia’ yang selama ini kita pegang.Tak dipungkiri, bahwa Anthem mungkin terkesan menekankan individualisme dan prinsip ego yang cenderung ekstrem. Pada akhirnya, semua pun kembali ke interpretasi masing-masing. Toh bukankah itu yang berusaha disampaikan Anthem? Bahwa semua individu memiliki kebebasan yang harus dihormati selagi ia tak merenggut hak individu lain?Kalau ada buku tipis yang bisa membuatku merasakan banyak hal, Anthem adalah salah satunya. Membaca Anthem menghadirkan keinginan misuh-misuh terhadap distopia kejam yang diciptakan penulis. Di saat bersamaan, buku ini justru memantik sisi sentimentalku karena penyajian emosi yang demikian nyata melalui perjalanan Equality 7-2521, yang juga merupakan cerminan perjalanan manusia dalam menemukan esensi utama dari kelahiran dan alasannya untuk hidup.