Människornas jord

Människornas jord

4.0 (4 beoordelingen)
2011 · Zweeds · Paperback · 48 edities
Toevoegen aan Plank

Beoordeel dit boek


Boekjournaal exporteren

Beschrijving

Indonesien 1898. Minke kommer från en förnäm javanesisk släkt och rör sig hemtamt bland de holländska kolonisatörerna. Han är intelligent och ambitiös, behärskar deras språk och är skolad i deras tankesätt. Men i det koloniala samhället nekas han samma rättigheter som de vita, gång på gång konfronteras han med dess ramar och begränsningar.

När han blir förälskad i Annelies, dotter till en holländsk affärsman och hans javanesiska konkubin, blir det början till ett uppvaknande. Tack vare Annelies och hennes familj förmår Minke bejaka sin indonesiska identitet och sitt eget folks traditioner, all dess skönhet och möjligheter men också dess grymhet och vrede.

Människornas jord är en gripande kärlekshistoria, och är första delen i romanserien ”Burukvartetten”.

Boekdetails

Formaat Paperback
Pagina's 378 pagina's
Taal Zweeds
Gepubliceerd apr. 1, 2011
Uitgever Leopard
Edities 48 edities
ISBN-10 9173433365
ISBN-13 9789173433365

Recensies

Bekijk Alles

Pertama-tama, aku mau mengapresiasi diri dulu karena akhirnya bisa melawan pemikiran insecure "otakku gak nyampe buat baca sastra klasik". Harus diakui, membaca Bumi Manusia bukan perkara gampang. Baru baca halaman pertama, aku langsung dibuat spaneng karena gaya bahasanya yang nyastra dan jadoel. Ditambah alurnya sendiri super duper lambat sampai bikin aku sambat, "Ini cerita mau dibawa kemanaaa?" 100 halaman pertama cukup banyak muter-muter di romansa Minke & Annelies, yang kalau boleh jujur, not my cup of tea (sori. Saya bukan penggemar bucin at the first sight).Ehem, mari kesampingkan itu dulu. Kayaknya Pak Pram punya pelet tersembunyi yang bikin aku tetap lanjut baca. Butuh waktu yang lama untuk menamatkan Bumi Manusia, dengan adanya jeda di sana-sini karena aku perlu mencerna beberapa bagian. Tapi di balik proses itu, pada akhirnya aku jadi lebih mengapresiasi dedikasi Pak Pram menulis cerita tentang kolonialisme, pergundikan, diskriminasi ras, dan (yang terpenting) mengenai perlawanan terhadap ketidakadilan. Melihat dunia dari kacamata Minke sedikit banyak membuatku tersadar. Bahwa aku sendiri belum sepenuhnya mengenal seluk beluk tanah air dan hal-hal yang menjadi identitas bangsaku selama ini. Membaca kalimat terakhir buku ini justru semakin memantik keinginanku untuk lekas membaca Anak Semua Bangsa: “Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”Kalau ingat sejarahnya Bumi Manusia yang sempat dilarang saat era Orde Baru, rasanya aku bersyukur bisa punya kesempatan membaca buku ini.

November 18th 2023
Toevoegen aan Plank

Beoordeel dit boek


Boekjournaal exporteren