Reviews
Необычный роман о том, как один человек под воздействием общества и коллектива может потерять себя
Gak tau mau jelasin tentang buku ini kayak gimana. Tapi, yang jelas buku ini tuh tipis tapi bisa banget nyenggol segala arah. Sedihnya ada, anehnya ada, kasihannya ada, creepynya ada banget, marah dan keselnya apalagi, numpuk maksimal.Selama baca buku ini, aku teringat sama salah satu video yang pernah aku tonton. Sebuah video yang menggambarkan isi pikir seseorang dengan skizofrenia, dan buku ini ngasih sensasi yang sama ketika aku nonton video itu. Buku ini serasa membawa kita masuk ke dalam isi kepalanya, bagaimana dia melihat dunia sekitar dia dan bagaimana pola pikirnya berbeda dengan orang-orang kebanyakan.Tapi, di sisi lain, persoalan yang menekan dia rasanya terlalu nyata, terlalu real, seperti kenapa usia kepala tiga pekerjaannya belum tetap, atau kenapa belum menikah, atau kenapa ini dan kenapa itu. Rasanya, I can relate to the situation, yang mana tekanan-tekanan ini memang ada, sejak dulu sampai sekarang di kehidupan sosial.Sebetulnya, Furukura gak ganggu sama sekali walaupun pola pikirnya jelas berbeda, justru lingkungan sosialnya yang terkesan terlalu ikut campur dengan urusannya dia.Tapi, ada satu yang bikin aku benar-benar kesal. Marah banget. Sosok Shiraha benar-benar parasit, bikin emosi. Pokoknya kesel banget. Harusnya dia udah jadi fossil. POKONYA SHIRAHA ANEEEEEEEH.Buku ini sendiri pacenya cepet, mengingatkan aku waktu baca [b:Cursed Bunny|62088282|Cursed Bunny|Bora Chung|https://i.gr-assets.com/images/S/compressed.photo.goodreads.com/books/1661500896l/62088282._SX50_.jpg|88519822] yang sukses bikin aku penasaran terus-terusan.
"Apakah aku normal atau aku hanya berpura-pura normal untuk memenuhi ekspektasi orang lain?” Ini adalah hal yang terus kupikirkan sepanjang mengikuti kisah Keiko. Bagi Keiko, minimarket adalah tempat dia bisa menemukan poros kehidupan dan merasa belong to something. Tapi tentu saja, sudah jadi kewajiban bagi masyarakat untuk mengurusi hidup manusia lain.People around Keiko be like: "Serius lu 18 tahun cuma punya pengalaman kerja di minimarket? Bodo amat, lu mau berfilosofi dan punya perasaan sentimental sama itu minimarket. Manusia normal harusnya nikah, punya anak, nyari kerja yang gajinya dua digit. Hidup lu ngenes, jadi gua ngomong begini buat kebaikan lu, wasweswos." Semakin dipikir, semakin masuk akal untuk menganggap bahwa tidak ada manusia yang bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri. Sedikit banyak, kita dibentuk oleh standar publik tentang apa yang dirasa pantas. Demikian pula dengan Keiko yang akhirnya tersadar bahwa dunia nyata jauh lebih besar daripada kotak kaca minimarket, bahwa dia harus mengikuti ‘buku panduan’ yang sudah ditetapkan demi menjadi seorang manusia. Tadinya, kukira obsesi Keiko bekerja sebagai pegawai minimarket hanyalah pembenaran agar dia bisa merasa ‘normal’. The more I read, the more I realized what Keiko felt is actually called passion (no matter how weird it is). You can say Keiko is eccentric, freaky, or alien, but I'm sure that at least you'll see a slight bit of yourself through her character. Membaca ending buku ini akhirnya berujung membuatku iri dengan Keiko dan keberaniannya mengambil keputusan. Melalui Convenience Store Woman, Sayaka Murata menulis cerita tentang beraneka ragam manusia; manusia yang merupakan produk dari standar masyarakat, manusia yang bisa beralasan apapun untuk menjustifikasi tindakannya, manusia yang memutuskan menyerah dengan segalanya, manusia yang berusaha mencari kebebasan. Buku ini terasa seperti satire potret kehidupan abad ini yang … sebenarnya aneh (?) tapi juga terasa dekat dengan diri kita. Begitulah. Mungkin aku tidak sepenuhnya normal. Mungkin kamu juga tidak. Begitupun dengan semua orang di dunia ini. Tapi selalu "menjadi normal" bukanlah satu-satunya cara untuk menjalani hidup. Meskipun hanya sekali, kuharap kita semua bisa menjadi seperti Keiko; yang menemukan arti kehidupan bukan berdasarkan "apa pandangan masyarakat", melainkan apa yang akhirnya kita temukan sendiri dengan cara paling tidak terduga. Saat itu terjadi, kuharap kita bisa berterima kasih karena sudah terlahir menjadi manusia.
Had some great discussions but damn it was somehow incredibly depressing and dull at the same time.
A short book that carries a lot of complexity and emotional punch. The main character Keiko is not sure how to fit in society, and the handbook of the convenience store provides that outline and structure for her. The story doesn't have much of a plot, but the emotional punch is strong. I didn't want the book to end.